Diriwayatkan dari Aisyah ra: Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?” Nabi Muhammad Saw bersabda, "amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit”
All Stories
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2013

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 



Khazanah Ilmi - Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:

“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.

“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,

“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka

“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram

“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca QS. Thaha. Hingga ayat :

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

“Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

“Ada apa ?”.

“Umar” Jawab mereka.

“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah."

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.


Kisah Umar bin Khattab Menjadi Seorang Muslim

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 



Khazanah Ilmi - Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:

“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.

“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :

“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,

“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka

“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram

“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.

Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca QS. Thaha. Hingga ayat :

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Beliau berkata :

“Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.

Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang ber-ada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:

“Ada apa ?”.

“Umar” Jawab mereka.

“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah."

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.

Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.


Posted at 20.20 |  by Admin

Senin, 01 Februari 2010


Pengenalan kita terhadap penjelajah dunia mungkin tidak terlalu sempit, kita mengenal banyak nama seperti halnya Cheng Ho, Vasco de Gama, Amerigo Vespuci, sampai kepada Christoper Colombus yang dianggap sebagai penemu Dunia Baru atau Benua Amerika. Adalah suatu yang perlu diperbaharui karena penjelajah Arab telah mendaratkan perahu-perahu mereka di dunia baru lima abad sebelum kehadiran Christoper Columbus. Boleh dibilang para penjelajah Arablah yang menjadi pelopor utama yang mengantarkan umat manusia untuk mengenal satu sama lain.


Adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji atau biasa disebut Ibnu Batuta yang telah menjadi salah satu tokoh penjelajah muslim. Dia lahir di Tangies, Maroko, afrika Utara pada 24 Februari 1304 M. Ibnu Batuta giat mempelajari fiqih dari para ahli yang sebagian besar menduduki jabatan kadi (hakim) dan dia juga mempelajari sastra dan syair Arab. Pada masa hidupnya, Bani Marrin tengah berkuasa di Maroko dan mengalami kejayaan. Besama pasukan kerajaan yang beberapa kali memerangi Perancis dia mulai menguasai dunia pelayaran.

Dari catatan Sir Henry Yules yang dikutip oleh sejarahwan George Sarton mengungkapkan bahwa Ibnu Batuta telah mengelana sejauh 75.000 mil melalui jalan darat dan laut. Jarak ini lebih jauh dengan apa yang dilakukan Marco Polo dan pengelana manapun sebelum datangnya mesin uap. Ibnu Batuta baru berusia 20 tahun ketika Marco Polo meninggal, namanya disejajarkan dengan Marco Polo, Fernando de Magellan, Hsing Tsieng dan Drake oleh Brockellman.

Juru tulis sultan Maroko, abu Enan telah menulis seluruh perjalanan Ibnu Batuta, karynya diberi judul Tuhfah an-nurzzarfi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang mengagumkan) dan telah mencuri perhatian berbagai kalangan Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai Negara, seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Pada usia kurang dari 21 tahun Ibnu Batuta telah menunaikan ibadah haji dan itu menjadi kepergian pertamanya. Catatan sejarah Ibnu Batuta mengatakan bahwa kepergiannya tepat tanggal 14 juni 1325 M, dengan menyebrangi Tunisia dia tiba di Alexandria dan seluruh perjalanannya di tempuh dengan berjalan kaki. Di Mesir Ibnu Batuta mendapat bantuan dari sultan Mesir berupa uang untuk bekal menuju Tanah Suci. Dia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah melalui Kairo dan Aidhab, dengan melewati pelabuhan penting Laut Merah dekat Aden. Ibnu Batuta kembali ke Kairo sebab jalur perjalanan selanjutnya penuh dengan penyamun, kemudian dia melanjutkan ke Mekkah melalui Gaza, Yerusalem, Hammah, Aleppo, Damaskus, Syiria. Dia tiba di Mekkah pada Oktober 1326. Pertemuannya dengan para jamaah dari berbagai negeri telah mendorong semangat Ibnu Batuta untuk mengenal langsung negeri-negeri asal jamaah haji.

Ibnu Batuta mulai menyebrangi gurun pasir Arabia menuju Irak dan Iran, kembali ke Damaskus dan melanjutkannya ke Mosul, India. Dia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya dan menetap di kota suci selama tiga tahun (1328-1330). Setelah puas menetap di Mekkah, Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya ke Aden dan berlayar ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zelia dan Mambasa. Ibnu Batuta kembali ke Aden, lalu ke Oman, Hormuz dari Teluk Persia dan Pulau Dahrain. Mampir sebentar ke Mekkah pada 1332, Ibnu Batuta menyeberangi Laut Merah, menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syiria, dan tiba di Lhadhiqiya kemudian menggunakan sebuah kapal Genoa, berlayar ke Ayala di pantai selatan Asia Kecil. Usai melakukan perjalanan laut, pada tahun 1333 Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya lewat darat. Dia menjelajahi stepa-stepa di Rusia Selatan sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan yang ada di tepi sungai Wolga. Perjalanannya diteruskan hingga ke Siberia. Ibnu Batuta berniat untuk menuju Kutub Utara, namun kemudian dia batalkan karena cuaca dingin di daerah Tanah Gelap, sebutan wilayah yang tak pernah ada sinar matahari.

Ibnu Batuta mendapatkan perlakuan baik dari kaisar saat sedang mengunjungi Kaisar Byzantum, Audronicas III. Dia mendapat hadiah kuda, pelana dan payung. Perjalanannya dia lanjutkan menuju Persia Utara hingga Afganistan dan beristirahat di Kabul. Saat mencapai India dia bertemu dengan Sultan Delhi, Muhammad bin Tuqluq. Di kesultanan ini Ibnu Batuta diangkat menjadi hakim dan tinggal di negeri ini selama delapan tahun. Atas perintah sultan, Ibnu Batuta menjadi duta besar kepada Kekaisaran Cina.

Dalam perjalanannya menuju Cina Ibnu Batuta melalui laut, dia sempat mampir ke beberapa negeri termasuk Kesultanan Samudra Pasai di Sumatera. Kedatangannya disambut Panglima Amir Daulas, Kadi Syarif Amir Sayyir-asy-Syirazi, Tahajuddin al-Ashabani dan beberapa ahli fiqih atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Menurut Ibnu Batuta, Sultan Mahmud merupakan penganut mahzab Syafii yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahasan dan muzakarah tentang berbagai hukum Islam. Selama 15 hari, Ibnu Batuta mengunjungi Samudra Pasai sebelum melanjutkan perjalanan ke Cina. Dia sempat mengunjungi pedalaman Sumatera yang masih dihuni masyarakat non-muslim. Setelah sekembalinya dari Cina Ibnu Batuta sempat singgah ke Samudra Pasai kembali.

Saat berkunjung ke Kaisar Cina, Ibnu Batuta kagum atas kekuatan armada besar yang dibangun oleh kekaisaran tersebut. Kembalidari Cina, Ibnu Batuta mengunjungi India, Oman, Persia, Irak dan Damaskus. Ibnu Batuta kembali ke Mekkah untuk menunaikan haji yang keempat kalinya pada 1348 M. Sekembalinya dai haji, dia menyusuri Yerusalem, Gaza, Kairo, dan Tunis. Dari Tunis, dengan menunggang perahu menuju Maroko lewat Dardinia dan tiba di Fez, ibukota Maroko pada 8 November 1349 M. Sejak itu, Ibnu Batuta hingga akhir hayatnya pada 1377 M. Praktis hingga ajal menjemput Ibnu Batuta berkelana dan mengunjungi berbagai negeri, baik Islam maupun non-Islam selama 24 tahun.


(Furqon edisi 17)

Ibnu Batuta - Penjelajah Dunia


Pengenalan kita terhadap penjelajah dunia mungkin tidak terlalu sempit, kita mengenal banyak nama seperti halnya Cheng Ho, Vasco de Gama, Amerigo Vespuci, sampai kepada Christoper Colombus yang dianggap sebagai penemu Dunia Baru atau Benua Amerika. Adalah suatu yang perlu diperbaharui karena penjelajah Arab telah mendaratkan perahu-perahu mereka di dunia baru lima abad sebelum kehadiran Christoper Columbus. Boleh dibilang para penjelajah Arablah yang menjadi pelopor utama yang mengantarkan umat manusia untuk mengenal satu sama lain.


Adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji atau biasa disebut Ibnu Batuta yang telah menjadi salah satu tokoh penjelajah muslim. Dia lahir di Tangies, Maroko, afrika Utara pada 24 Februari 1304 M. Ibnu Batuta giat mempelajari fiqih dari para ahli yang sebagian besar menduduki jabatan kadi (hakim) dan dia juga mempelajari sastra dan syair Arab. Pada masa hidupnya, Bani Marrin tengah berkuasa di Maroko dan mengalami kejayaan. Besama pasukan kerajaan yang beberapa kali memerangi Perancis dia mulai menguasai dunia pelayaran.

Dari catatan Sir Henry Yules yang dikutip oleh sejarahwan George Sarton mengungkapkan bahwa Ibnu Batuta telah mengelana sejauh 75.000 mil melalui jalan darat dan laut. Jarak ini lebih jauh dengan apa yang dilakukan Marco Polo dan pengelana manapun sebelum datangnya mesin uap. Ibnu Batuta baru berusia 20 tahun ketika Marco Polo meninggal, namanya disejajarkan dengan Marco Polo, Fernando de Magellan, Hsing Tsieng dan Drake oleh Brockellman.

Juru tulis sultan Maroko, abu Enan telah menulis seluruh perjalanan Ibnu Batuta, karynya diberi judul Tuhfah an-nurzzarfi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang mengagumkan) dan telah mencuri perhatian berbagai kalangan Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai Negara, seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Pada usia kurang dari 21 tahun Ibnu Batuta telah menunaikan ibadah haji dan itu menjadi kepergian pertamanya. Catatan sejarah Ibnu Batuta mengatakan bahwa kepergiannya tepat tanggal 14 juni 1325 M, dengan menyebrangi Tunisia dia tiba di Alexandria dan seluruh perjalanannya di tempuh dengan berjalan kaki. Di Mesir Ibnu Batuta mendapat bantuan dari sultan Mesir berupa uang untuk bekal menuju Tanah Suci. Dia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah melalui Kairo dan Aidhab, dengan melewati pelabuhan penting Laut Merah dekat Aden. Ibnu Batuta kembali ke Kairo sebab jalur perjalanan selanjutnya penuh dengan penyamun, kemudian dia melanjutkan ke Mekkah melalui Gaza, Yerusalem, Hammah, Aleppo, Damaskus, Syiria. Dia tiba di Mekkah pada Oktober 1326. Pertemuannya dengan para jamaah dari berbagai negeri telah mendorong semangat Ibnu Batuta untuk mengenal langsung negeri-negeri asal jamaah haji.

Ibnu Batuta mulai menyebrangi gurun pasir Arabia menuju Irak dan Iran, kembali ke Damaskus dan melanjutkannya ke Mosul, India. Dia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya dan menetap di kota suci selama tiga tahun (1328-1330). Setelah puas menetap di Mekkah, Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya ke Aden dan berlayar ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zelia dan Mambasa. Ibnu Batuta kembali ke Aden, lalu ke Oman, Hormuz dari Teluk Persia dan Pulau Dahrain. Mampir sebentar ke Mekkah pada 1332, Ibnu Batuta menyeberangi Laut Merah, menyusuri Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syiria, dan tiba di Lhadhiqiya kemudian menggunakan sebuah kapal Genoa, berlayar ke Ayala di pantai selatan Asia Kecil. Usai melakukan perjalanan laut, pada tahun 1333 Ibnu Batuta melanjutkan pengembaraannya lewat darat. Dia menjelajahi stepa-stepa di Rusia Selatan sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan yang ada di tepi sungai Wolga. Perjalanannya diteruskan hingga ke Siberia. Ibnu Batuta berniat untuk menuju Kutub Utara, namun kemudian dia batalkan karena cuaca dingin di daerah Tanah Gelap, sebutan wilayah yang tak pernah ada sinar matahari.

Ibnu Batuta mendapatkan perlakuan baik dari kaisar saat sedang mengunjungi Kaisar Byzantum, Audronicas III. Dia mendapat hadiah kuda, pelana dan payung. Perjalanannya dia lanjutkan menuju Persia Utara hingga Afganistan dan beristirahat di Kabul. Saat mencapai India dia bertemu dengan Sultan Delhi, Muhammad bin Tuqluq. Di kesultanan ini Ibnu Batuta diangkat menjadi hakim dan tinggal di negeri ini selama delapan tahun. Atas perintah sultan, Ibnu Batuta menjadi duta besar kepada Kekaisaran Cina.

Dalam perjalanannya menuju Cina Ibnu Batuta melalui laut, dia sempat mampir ke beberapa negeri termasuk Kesultanan Samudra Pasai di Sumatera. Kedatangannya disambut Panglima Amir Daulas, Kadi Syarif Amir Sayyir-asy-Syirazi, Tahajuddin al-Ashabani dan beberapa ahli fiqih atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Menurut Ibnu Batuta, Sultan Mahmud merupakan penganut mahzab Syafii yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahasan dan muzakarah tentang berbagai hukum Islam. Selama 15 hari, Ibnu Batuta mengunjungi Samudra Pasai sebelum melanjutkan perjalanan ke Cina. Dia sempat mengunjungi pedalaman Sumatera yang masih dihuni masyarakat non-muslim. Setelah sekembalinya dari Cina Ibnu Batuta sempat singgah ke Samudra Pasai kembali.

Saat berkunjung ke Kaisar Cina, Ibnu Batuta kagum atas kekuatan armada besar yang dibangun oleh kekaisaran tersebut. Kembalidari Cina, Ibnu Batuta mengunjungi India, Oman, Persia, Irak dan Damaskus. Ibnu Batuta kembali ke Mekkah untuk menunaikan haji yang keempat kalinya pada 1348 M. Sekembalinya dai haji, dia menyusuri Yerusalem, Gaza, Kairo, dan Tunis. Dari Tunis, dengan menunggang perahu menuju Maroko lewat Dardinia dan tiba di Fez, ibukota Maroko pada 8 November 1349 M. Sejak itu, Ibnu Batuta hingga akhir hayatnya pada 1377 M. Praktis hingga ajal menjemput Ibnu Batuta berkelana dan mengunjungi berbagai negeri, baik Islam maupun non-Islam selama 24 tahun.


(Furqon edisi 17)

Posted at 15.26 |  by Admin

Sabtu, 26 Desember 2009


Jauh sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ilmu kimia telah dikenal luas masyarakat abad pertengahan. Saat itulah awal mula cabang ilmu eksakta ini ada. Tapi, tahukah Anda siapa penemu dan pengembang ilmu kimia ini? Adalah Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tersebut di abad ke-8 M jauh sebelum ahli kimia barat bernama John Dalton (1766 – 1844) mencetuskan teori molekul kimia.


Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).

Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, Jabir kecil menerima pendidikannya dari imam terkenal, Imam Ja'far Shadiq as. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Sebagai anak bungsu dalam keluarganya, dia sering dimanjakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Meskipun demikian, Jabir lebih suka menyendiri sambil memperhatikan fenomena alam dari awal dan tentang dunia kehidupan. Dia sering meneliti ikan di sungai Hiri Rud, membuat penelitian ke hutan belantara di sekitar Tus serta kebun-kebun yang dipenuhi oleh tumbuhan dan binatang serta unggas.

Ditemukannya kimia oleh Hayyan ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs.

Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani.

Adalah menjadi kebiasaannya mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan:
"Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam."

Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadu' dan berkepribadian mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar," tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai 'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibn Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan).

Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis.

Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: "Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap.

Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:

  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.

Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas 'berterima kasih' padanya.


Pangeran dan Filsuf

Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia --termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab Al-Sab'een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton.


(http://www.islamic-center.or.id/)

Jabir Ibn Hayyan - Ahli Kimia


Jauh sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ilmu kimia telah dikenal luas masyarakat abad pertengahan. Saat itulah awal mula cabang ilmu eksakta ini ada. Tapi, tahukah Anda siapa penemu dan pengembang ilmu kimia ini? Adalah Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tersebut di abad ke-8 M jauh sebelum ahli kimia barat bernama John Dalton (1766 – 1844) mencetuskan teori molekul kimia.


Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).

Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, Jabir kecil menerima pendidikannya dari imam terkenal, Imam Ja'far Shadiq as. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Sebagai anak bungsu dalam keluarganya, dia sering dimanjakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Meskipun demikian, Jabir lebih suka menyendiri sambil memperhatikan fenomena alam dari awal dan tentang dunia kehidupan. Dia sering meneliti ikan di sungai Hiri Rud, membuat penelitian ke hutan belantara di sekitar Tus serta kebun-kebun yang dipenuhi oleh tumbuhan dan binatang serta unggas.

Ditemukannya kimia oleh Hayyan ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs.

Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani.

Adalah menjadi kebiasaannya mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan:
"Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam."

Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadu' dan berkepribadian mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar," tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai 'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibn Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan).

Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis.

Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: "Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap.

Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:

  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.

Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas 'berterima kasih' padanya.


Pangeran dan Filsuf

Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia --termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab Al-Sab'een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton.


(http://www.islamic-center.or.id/)

Posted at 14.35 |  by Admin
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top